Written By: Warsa
A leader in the contemporary view is not – should not be seen – as a demigod figure again, despite the fact that a leader must have an attitude like a god (good god). A leader in the contemporary climate is no longer a creature that should be revered, honored, distinguished in rank, especially worshiped prostration. For whatever seerti leader is only a small part of the democratic climate in which good fortune to be led entirely taboo in this democratic environment.
Sovereignty was to assume the leadership of God to an individual, a cult-like to a king or president. Whatever is done by a leader is not a mistake. As if there are only two rules in this leader’s sovereignty, first; a leader never make mistakes, both when the leader made a mistake then the first point last seen. In the sovereignty of the leadership, great leaders sat while watching people fall down and although the conditions were in the state of climate discomfort. The King Can Do No Wrong. Mistakes will be made to a non-leader!
In the era of contemporary democracy, the sovereignty of the type of leadership can not be erased completely. Not a few leaders who promote the attitude elites than to chat with the people they lead. Climate feudal still clearly visible when a people bent awkwardly in front of a leader. And this is clearly the root of the problem occurrence bulkhead between people’s aspirations and policy makers. Elitist attitude as a leader with castrated progress, the cause of stagnation, and the barriers of creativity. Because you need to accelerate progress in this era is the leader who has a populist but firm attitude.
Populist attitude of these leaders will open the curtain rigidity. Where until now when a chief came to the region is still illustrated as Batara Brahma down to earth, and they also led to position themselves as human beings and the lower caste are not allowed to touch even the shadow of the leader. Obviously this fact is not expected if there is democracy, sovereignty in the hands of the people-the foundation of our footing.
Opening screen of this rigidity is nothing but an attitude of populist leaders. Populist attitude in which between body and soul was a leader among a sea of people and myriad problems in face him. He’ll feel hungry at first before people starve, and most recently she feels full after its people prosper. Not quite the contrary. he was in the star hotels, all eating well, luxury vehicles fluctuate as much people have to sleep on the patio department while fighting the cold, picking up leftover food just because they have not eaten all day, or are preparing to take the neighbor’s television.
Our attitude today is; let us around the eyes, look and look with us … is there a hearing in this presidential election candidates who have the attitude of the leadership of populist? Hopefully there
SEORANG pemimpin dalam pandangan kekinian bukan – jangan dipandang – sebagai sosok manusia setengah dewa lagi, meskipun dalam kenyataannya seorang pemimpin harus memiliki sikap seperti dewa ( Dewa kebaikan ). Seorang pemimpin dalam iklim kontemporer ini bukan lagi mahluk yang harus diagung-agungkan, dimuliakan, dibedakan drajatnya, terlebih disembah sujud. Sebab seerti apa pun pemimpin hanya merupakan bagian kecil dari iklim demokrasi dimana daulat pimpinan sama sekali menjadi hal tabu dalam lingkungan demokrasi ini.
Daulat pimpinan adalah penuhanan terhadap seorang individu, pengkultusan terhadap seorang raja atau presiden. Apa pun yang dllakukan oleh seorang pemimpin bukan merupakan kesalahan. Seolah hanya ada dua aturan dalam Kedaulatan Pemimpin ini, pertama; seorang pemimpin tidak pernah melakukan kesalahan, kedua jika seorang pemimpin melakukan kesalahan maka lihat point pertama tadi. Dalam kedaulatan pimpinan, pemimpin asyik duduk bertumpang kaki sambil menyaksikan rakyatnya sujud simpuh kendatipun kondisi negara sedang berada dalam iklimketidaknyamanan. The King Can Do No Wrong. Kesalahan akan ditujukan kepada selain pemimpin!
Di era demokrasi kontemporer, tipe kedaulatan pimpinan memang tidak bisa dikikis secara utuh. Tidak sedikit para pemimpin yang mengedepankan sikap elitisnya daripada harus bercengkrama dengan rakyat yang dipimpinnya. Iklim feodal masih terlihat jelas ketika seorang rakyat tertunduk rikuh di depan seorang pimpinan. Dan ini jelas merupakan akar masalah timbulnya sekat antara aspirasi rakyat dan penentu kebijakan. Sikap elitis seorang pimpinan sama dengan mengeberi kemajuan, penyebab stagnasi, dan penghalang kreativitas. Sebab yang dibuthkan untuk mengegas kemajuan di era ini adalah pimpinan yang memiliki sikap populis namun tegas.
Sikap populis dari pimpinan ini akan membuka tirai kekakuan. Dimana sampai sekarang ketika seorang pimpinan datang ke wilayah masih diilustrasikan sebagai Batara Brahma yang turun ke bumi, dan mereka yang dipimpinpun memosisikan diri mereka sebagai manusia-manusia berkasta rendah dan tidak diizinkan untuk menyentuh sekalipun bayangan si pemimpin. Jelas sekali kenyataan ini tidak diharap jika demokrasi- kedaulatan ada di tangan rakyat- menjadi landasan berpjijak kita.
Pembuka tabir kekauan ini tidak lain adalah sikap populis seorang pimpinan. Sikap populis dimana antara jiwa dan raga seorang pimpinan itu berada diantara lautan rakyat dan segudang masalah yang di hadapinya. Dia akan paling pertama merasa lapar sebelum rakyatnya kelaparan, dan dia yang paling akhir merasakan kenyang setelah rakyatnya sejahtera. Bukan malahj sebaliknya. dia sedang berada di hotel berbintang, menyantap makanan serba wah, turun naik kendaraan mewah ketika banyak rakyatnya harus tidur di emper swalayan sambil melawan dinginnya udara, memungut sisa-sisa makanan hanya karena belum makan seharian, atau sedang bersiap-siap untuk menghambil televisi tetangga.
Sikap kita hari ini adalah; mari raba oleh mata kita, lihat dan tatap dengan pendengaran kita… adakah di Pemilu Presiden ini calon pimpinan yang memiliki sikap populis? Mudah-mudahan saja ada…
Filed under: Kolom Kang Warsa












