PNPM Kok Memble

By: Warsa

Idealisme yang saya anut hampir, bahkan memang sejalan dengan konsep awal PNPM. Bisa dikatakan dengan bahasa lain, idealism utopis, usang, dan memang melangit. Bahwa cita-cita tertinggi dari konsep utopis ini adalah ingin mengembalikan kembali nilai-nilai luhur bangsa berupa kejujuran, etos kerja, semangat untuk membantu orang lain, dan sifat altruis-positif. Nilai-nilai bangsa, dengan bahasa lain nilai-nilai luhur yang pernah dimiliki oleh para leluhur kita saat ini telah terkoyak oleh; kebohongan, kemalasan, dan egoisme. Ya, PNPM dengan jubah orang sucinya lahir.

Dengan semangat idealis utopis inilah seorang fasilitator, dua tahun lalu mengunjungi saya sebagai ketua RW. Tercetus satu kalimat bahwa ke daerah kami telah masuk salah satu Program Nasional dengan tujuan untuk membangkitkan kembali swadaya masyarakat. Rembug masyarakat pun, waktu itu dilakukan secara spontan dan sporadic namun sama sekali tidak menghilangkan satu kesepakatan bahwa sampai detik itu masyarakat memang membutuhkan sebuah ragi yang bisa menstimulasi kembali semangat gotong royong mereka. Ya, anggaplah mereka setuju dengan lahirnya Program Nasional ini, walaupun mayoritas dari mereka sama sekali belum memahami arti mendalam dari program ini. Karena yang tersimpan begitu rapi dalam benak masyarakat adalah setiap ada program apa pun selalu diartikan sebagai bantuan dari pusat ke daerah yang harus dihabiskan! Mereka tentu saja berkaca pada masa lalu, terhadap Program-program sebelumnya, semisal KUT dan BLT.
Read more »

Short Story: Rost, Will You Wanna be..?

By: Warsa

After a full day, after performing prayers ied, I visited some relatives, I finally returned to the house, too. Day was the afternoon, the dry season hit our village since last month. During Ramadan it can be said rain fell only once, it was also almost can not be said as the rain, because it’s just drizzle a moment. The people I met often uttered similar words, shall we say upset, because they have to deal with the heat this month.
Read more »

pandangan terhadap iklan kelurahan siaga

by: Warsa S

Di televisi, mungkin kita sering melihat tayangan iklan layanan masyarakat yang mengkampanyekan desa siaga. Walaupun kekerapan dalam penayangan iklan tersebut tidak sebanding dengan intensitas penayangan sinetron namun dari iklan yang sama sekali kurang mendapat respon atau perhatian penuh dari masyarakat penikmat televisi telah memberi satu gambaran umum bahwa sebuah masyarakat dikatakan masyarakat mandiri ketika mereka telah peduli dan mau melaksanakan satu hal kecil, misalkan peduli terhadap lingkungan dan kesehatannya.

(On television, we may often see public service commercials who campaigned standby village. Although the frequency of these ads are not proportional to the intensity of exposure soap opera but the same ads all about getting a response or attention from the public television audience has given a general picture of a society that people say when they have self-care and want to do one small thing, suppose that care about the environment and health.)

Gambaran umum ini semakin jelas ketika kita perhatikan secara langsung bahwa sampai saat ini keberdayaan masyarakat masih patut dipertanyakan. Dalam hal kesehatan saja, di wilayah terutama di Sudajayahilir, kecendrungan orang untuk mempersoalkan pentingnya kesehatan dalam obrolan masih tidak lebih baik jika disetarakan dengan obrolan mereka yang membahas persoalan hidup mendasar. Persoalan hidup mendasar bagi sebagian besar kelompok masyarakat saat ini sudah tentu adalah bagaiman sore atau besok mereka bisa makan dan memenuhi kebutuhan ini. Lepas dari itu semua, kebutuhan mendasar seperti kesehatan dan penataan lingkungan sama sekali belum tersentuh secara mendalam.

(This general picture became clear when we look at in person that until now the community empowerment is still questionable. In terms of health alone, in the region especially in Sudajayahilir, orientation of people to question the importance of health in the chat was not much better if they are synchronized with the conversation that discusses the basic living problems. Basic life issues for most societies today, of course, is how the afternoon or tomorrow they can eat and meet these needs. Apart from it all, basic needs such as health and environmental arrangement has not been touched in depth.)

Tiga atau empat tahun lalu, muncul wacana harus diberdayakan kembali masyarakat. Mereka diberi peluang untuk membaca dan mengukur dengan akurat masalah-masalah mendasar yang dibutuhkan oleh mereka, terutama di wilayah dimana mereka berada. Bukan hanya itu, masyarakat pun diberi kebebasan untuk membuka ide dan pikiran cerdas mereka demi kemajuan mereka dan lingkungan tempat mereka tinggal. Namun, sekian tahun berjalan, bahkan sejak reformasi dikumandangkan, hanya segelintir orang saja yang bisa menyuarakan apa masalah dan kebutuhan mereka. Sebagian besar hanya cukup berperan sebagai pelengkap dan lebih banyak menjadi penonton saja dalam panggung pementasan drama pemberdayaan.

(Three or four years ago, appears discourse communities must be empowered again. They were given the opportunity to read and accurately measure the fundamental issues that needed by them, especially in areas where they are. Not only that, people were given the freedom to open ideas and their intelligent minds for their progress and the environment in which they live. However, many years running, even since the reform law was declared, only a few people who can articulate what their needs and problems. Most just simply act as a complement and a lot more to be spectators in the play stage of empowerment.)

Sukabumi, jauh-jauh hari telah mencanangkan, di tahun 2010 yang akan datang Kota ini harus telah menjadi Kota Sehat. Sebuah cita-cita melangit dan patut diusahakan oleh kita agar ide cerdas ini mewujud dalam pola kehidupan dan membumi di masyarakat. Mari kita banding luruskan antara ide cerdas sebagai kota sehat, dengan pola hidup kita sendiri. Di sana masih banyak hal-hal yang harus dibenahi, bukan sekedar membutuhkan pikiran yang jernih juga hati dan perasaan manusia sebagai mahluk sosial. Sejak kapan kita, terutama orang-orang yang biasa mencicipi kue kehidupan secara layak ini mau menjenguk sekelompok para tukang kayu, tukang panggul, anak jalanan? Ketika ada pun, hanya dilakukan di acara-acara seremonial belaka. Proses pemberdayaan dan membangunkan kembali masyarakat dari tidurnya bukan dengan cara demikian, kecuali dengan terus memosisikan jabatan, harta, dan posisi sebanding dengan orang-orang di sekeliling kita.

(Sukabumi, far-away days have been launched, in 2010 the future of this city must have a Healthy City. A sky-high ideals and worthy to be cultivated by our smart idea is embodied in the pattern of life and grounded in the community. Let’s get this straight appeal of smart ideas for healthy cities, with the pattern of our own lives. There are still many things that must be addressed, not merely require a clear mind and heart, too human feelings as a social creature. Since when did we, especially those who used the cake tasted a decent life is going to visit a group of carpenters, hip, street children? When there is any, is only performed at ceremonial occasions alone. The process of empowerment and community reawaken from sleep is not that way, except by continuing to position of office, wealth, and position comparable to those around us.)

Tulisan ini hanya sebatas pandangan terhadap sebuah tayangan iklan layanan masyarakat, secara kebetulan ada kemiripan dan korelasi mendalam dengan cita-cita Kota Sukabumi. Mari kita lihat dengan kacamata yang jernih, dan ini telah dilihat oleh kita, masyarakat, betapa belum berdayanya diri kita ketika masih melihat beberapa sosok- para petinggi- kota, para Camat, RT dan RW masih bertinggah mengagungkan tatanan feodalisme, bukan kah dalam agama kita konsep-konsep jahat seperti itu sama sekali tidak dibenarkan untuk dianut? Ya, kita memang tahu… karena agama kita mengajarkan demikian!

(This paper is only a limited view of public service commercials, by chance there are deep similarities and correlation with the ideals of Sukabumi. Let us look with clear lens, and this has been seen by us, the community, how we are not powerful when he was seeing some figure-of-town officials, the subdistrict, RT and RW are still the order of feudalism bertinggah glorify, not whether in our religion concepts such evil is not justified for shared? Yes, we do know … because our religion teaches that!)

Our Village

IMG0008A

We never had a crucial view that our village will soon disappear from this earth, because of the beauty it has to be one strong reason, that we should not lose it. Only, this view began slowly eroded away by human greed that are often on behalf of the business and welfare when they put forward is basically an individual greed than ethics business ethics and welfare.

View our crucial that our village would not be gone unchallenged by the basic assumptions that manifest in the form of development without involving in-depth aspects of nature conservation. Yes, this is the basic demands of people living in the modern nature, everything has to be fast-paced, so the acceleration is often forgotten the original values, that people often have sympathy and respect for nature.

Kami tidak pernah memiliki satu pandangan krusial bahwa kampung kami kelak akan hilang dari bumi ini, karena keindahan yang dimilikiny menjadi satu alasan kuat, bahwa kami tidak boleh kehilangannya. Hanya saja,pandangan ini secara perlahan mulai terkikis habis oleh keserakahan manusia yang acap kali mengatasnamakan bisnis dan kesejahteraan padahal pada dasarnya lebih mengedepankan etika ketamakan perorangan daripada etika bisnis dan kesejahteraan.

Pandangan krusial kami bahwa kampung kami tidak akan hilang terbantahkan dengan asumsi dasar yang mengejawantah dalam bentuk pembangunan tanpa melibatkan aspek-aspek mendalam terhadap pelestarian alam. Ya, inilah tuntutan dasar manusia yang hidup di alam modern, segalanya harus serba cepat, sehingga percepatannya sering melupakan nilai-nilai asal, bahwa manusia sering menaruh simpati dan menghormati alam.
Read more »

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Versus Loan Shark

By: Warsa

Change is an eternity in human life. Observers often express the future with optimism, that change in human life whether committed by individuals or social groups should lead to improvement, from negative to positive. And this certainly must be supported by anyone as an agent of change.

Only if we are quick-look, like Ali Shariati-expression to fetch the future, by presenting the future without separating it today, it will be visible with clear what the future of our society. Social change from day to day could not have been avoided had changed the mind, more specifically paradigm and how the public view. For example; change from the simplicity and feel pretty has turned into consumption patterns. This of course is the impact of social changes that occurred in previous eras, mainly caused by economic measures and changes in the economic system of simplicity to the economy and capital ownership.
Read more »